Selasa, 29 Mei 2012

Belajar Kehidupan dari Pendakian Gunung Gede

dan lututku masih lebih tinggi dari puncak badanmu


Pendakian malam perdana
dan malam itu ketika gelap makin menjelang, aku masih diatas roda yang terus berputar, menjemput rembulan yang duduk manis di puncak Gede-Pangrango.


Gunung putri menebar udara dinginnya, sekali lagi aku menggigil dalam sunyinya malam, sejenak aku bergumam pada Tuhan ku harap lurus niat untuk bersyukur atas nikmat-mu dan mengevaluasi diri lewat alam-Mu..


berjalan dalam bimbang malam itu, pada setapak jalan miniatur kehidupan, gelap penuh dengan takut karena tak mengenal arah pasti..


sepintas terdengar mesra gemercik air dan malu bertanya aku dalam hati "seberapa jauh kau telah mengalir dan memberi manfaat pada orang dibawah sana, padahal aku merasa belum berbuat apapun untuk dunia"


terus kaki ini kulangkahkan tanpa maksud mengikuti langkah sang heroik Gie, paling tidak demikianlah roman sejarah bercerita tentang kepahlawanannya, aku berada disini untuk melihat jauh ke dalam diriku siapa sebenarnya aku dibawah bentangan alam ini..


terus menembus gelap malam dalam belantara dan setapak jalan tanah bercabang-cabang, makin dingin udara masuk dan menusuk ke paru-paru ku, makin kencang degup jantungku, makin pasrah pula aku pada Tuhanku.. ikhlasku jika malam ini akhir pendakian dan perjalanan hidupku, kalah bersaing dengan pohon kokoh menjulang tinggi.


dan sampailah aku di alun-alun luas kerajaan alam Gede, padang luas Surya Kencana, dan edelweis kuncup malu mengintip dibalik uap air nan tebal melingkupi kehidupan malamnya..


"kapan pendakian ini berakhir??" teriakku dalam hati yg sepintas kemudian ku jawab, "saat aku menjejakkan kaki di puncaknya!"


benar saja, padas demi padas, akar pohon dan tanah berkerikil kulalui sudah, ku tatap keatas terlihat jagat cerah berbintang banyak, semakin ku percepat langkah dan akhirnya kaki ini tiba di impiannya kedua kalinya lutut ini berdiri lebih tinggi dari puncak Gede..
Puncak ke dua


dan inilah hari baru, saat fajar menyingsing perlahan mengintip dari balik sebaris awan pagi, di tempat ini, dimana udara tetap menjadi dingin dibawah siraman cahaya mentari.. puncak batu raksasa, Gede Pangrango..

Sunrise di puncak Gunung Gede




to be continued..
kekonsistenan adalah hal yang paling berharga untuk kita jaga